GEMAERA.ID, Palopo – Menjelang kontestasi internal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Palopo, Irianto S. mulai membangun komunikasi lintas tokoh di wilayah Luwu Raya. Dalam beberapa hari terakhir, bakal calon Ketua HIPMI Palopo itu aktif bersilaturahmi dengan sejumlah figur, di antaranya Esra Lamban dan drg Marji Rumpak.

Silaturahmi tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Sejumlah pihak yang hadir menyebut pertemuan diisi diskusi mengenai tantangan ekonomi lokal, mulai dari daya saing UMKM, transformasi digital, hingga pentingnya tata kelola usaha yang berintegritas. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan percepatan adaptasi teknologi, pelaku usaha daerah dinilai membutuhkan ruang kolaborasi yang lebih solid.

“Beliau lebih banyak mendengar daripada berbicara,” ujar Esra Lamban, tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD Sulawesi Selatan, dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2/2026).

“Fokusnya pada bagaimana organisasi ini kedepan bisa menjadi ruang belajar bersama, bukan sekadar struktur kepengurusan. Dan saya pikir ini contoh yang baik bagi calon pemimpin dimasa depan yah utamanya di HIPMI Palopo, mau mendengar masukan dan berdialog dan gagasannya pun sangat adaptable dalam konteks masa kini dan masa depan.”tambahnya.

Apresiasi juga disampaikan drg Marji Rumpak M.Kes. Ia menilai pendekatan silaturahmi memiliki makna strategis dalam konteks sosial dan organisasi.

“Dalam tradisi sosial masyarakat kita, silaturahmi bukan sekadar etika pergaulan, melainkan mekanisme membangun legitimasi moral. Dalam kerangka teori organisasi modern, langkah itu juga merefleksikan pemahaman bahwa kepemimpinan yang berkelanjutan lahir dari akumulasi kepercayaan bukan hanya mandat prosedural,” ujarnya.

Sementara itu, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andi Djemma, Dian Pratiwi SM., MBA, melihat pola tersebut sebagai indikasi kesadaran institusional.

“Saya melihat pola ini sebagai indikasi kesadaran institusional. Organisasi seperti HIPMI tidak dapat bergerak efektif tanpa jejaring sosial yang solid. Dalam ekonomi berbasis jaringan (network economy), nilai tambah sering kali tercipta dari relasi yang saling memperkuat, bukan dari kompetisi internal yang terfragmentasi.”

Irianto S. Sendiri menekankan pentingnya membangun HIPMI Palopo sebagai pusat inkubasi gagasan bisnis dan penguatan kapasitas anggota. Ia mendorong kolaborasi antara pengusaha muda dan senior, serta membuka ruang partisipasi bagi anggota baru agar regenerasi berjalan sistematis. pendekatan kolaboratif ini relevan dengan kebutuhan Palopo sebagai kota penyangga pertumbuhan di Luwu Raya.

“Kita butuh stabilitas dan inovasi sekaligus. Itu hanya mungkin jika organisasi pengusaha seperti HIPMI Palopo mampu merangkul semua pihak,” ujarnya.

Kontestasi di tubuh HIPMI Palopo memang masih berada dalam kerangka internal. Namun dinamika kepemimpinan di dalamnya dinilai memiliki dampak lebih luas terhadap iklim kewirausahaan daerah, mengingat peran pengusaha muda sebagai motor penciptaan lapangan kerja dan inovasi.

Melalui rangkaian silaturahmi tersebut, Irianto S. membingkai kontestasi sebagai proses konsolidasi gagasan, bukan polarisasi kepentingan.

“Di tengah realitas ekonomi yang menuntut kolaborasi dan ketahanan, langkah tersebut menghadirkan satu pesan yang sulit dibantah: bahwa masa depan organisasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh sejauh mana ia mampu membangun jembatan kepercayaan sebelum memegang amanah.” Tegas Irianto.(*)